Monday, February 16, 2009

APERTURA (8)

Mamanya, yang bernama Moghrain, segera mengajak kami masuk ke dalam untuk membicarakan hal itu. Dia menyuruhku duduk bersila di depannya, sementara Charmaine disuruhnya membawakan sesuatu yang disebut… ‘Golden float’, entah apa itu.

Sesuai perintahnya, aku duduk bersila di depannya sementara tante Moghrain tampak sedang membacakan sesuatu, mungkin mantra atau apa, yang jelas mulutnya tampak berkomat-kamit. Cukup lama juga ia membaca ‘mantra’ itu. Setelah ia selesai, tiba-tiba di sekeliling tubuhku tampak seberkas cahaya putih menyinariku. Tante Mog tersenyum lembut ke arahku, dan aku bisa melihat kegembiraan di matanya.

“Memang benar, Charmaine,” katanya ketika Charmaine kembali.

“Apanya yang benar? Bukankah aku sudah tahu kalau Gracia memang benar bisa terbang? Mama yang tidak percaya, kan?” tanya Charmaine, tidak mengerti.

“Kamu tidak tahu? Mama sudah pernah bilang, kan? Satu dari sekian banyak manusia seluruh dunia adalah manusia pilihan, dia memang manusia tapi memiliki kemampuan seperti kita! Lagipula orang seperti itu hanya muncul sepuluh tahun sekali, boleh dibilang dia adalah seorang nondariber.” Tante Mog menjelaskannya.

“Aku? Manusia spesial?” tanyaku keheranan, “Mana mungkin! Aku bahkan takut ketinggian, mana mungkin aku bisa menjadi… menjadi… apa tadi? Nondibeble? Nombideble?”

Tante Mog tersenyum, “Nondariber, Gracia.” Katanya, “Nondariber adalah julukan dari kami bagi manusia yang spesial itu.”

“Tapi Gracia terbang dengan bantuan floaty gum, bukan dengan sayapnya sendiri, Ma.” balas Charmaine.

“Karena itulah dia perlu golden float. Kalian pasti tidak tahu apa itu golden float.” lanjut Tante Mog, “Golden float adalah sayap khusus bagi para nondariber untuk membantu mereka terbang. Golden float sudah ada sejak dulu dan diwariskan secara turun-temurun melalui kami, para floaters. Tidak semua nondariber bisa memilikinya karena tidak semua nondariber dapat bertemu dengan kami, para floaters. Kalian mengerti?” tante Mog menjelaskan panjang lebar.

“Aku mengerti,” kata Charmaine, “tapi aku masih tidak percaya kalau Gracia… Lagipula mana mungkin dia bisa terbang dengan butiran pasir ini?” benda yang dibawa Charmaine memang nampak seperti butiran pasir halus yang tersimpan di dalam sebuah kotak emas.

“Aku sendiri juga tidak percaya.” kataku.

Tante Mog lagi-lagi tersenyum padaku. Ia mengambil kotak berisi butiran emas itu. “Inilah golden float,” jelasnya, “kalian tentu saja tidak akan percaya sampai kalian melihatnya sendiri. Kemarilah Gracia.”

Aku mendekat ke arahnya. Ketika ia membuka kotak emas itu, tampak butiran-butiran halus di dalamnya berkilauan. Dia mengambilnya segenggam dan mengucapkan sesuatu dalam bahasa yang sulit kumengerti, kemudian ia menaburkan serbuk itu di atas kepalaku dan menyentuh keningku sambil tetap mengucapkan kalimat aneh itu. Aku hanya diam dan memperhatikannya. Tiba-tiba ia berdiri dan mengitariku. Aku menoleh ke arahnya.

“Jangan mengalihkan pandanganmu!” katanya tiba-tiba.

Aku tidak berani membantah perintahnya dan segera memalingkan wajahku kembali. Lama sekali aku tidak mendengar suaranya. Aku hanya diam, tak berani menoleh ke arahnya dan begitu juga Charmaine. Di tengah-tengah keheningan itu, tiba-tiba aku merasakan sesuatu jatuh di punggungku, sesuatu yang halus, sepertinya butiran pasir tadi. Dan… kurasakan punggungku panas, panas dan semakin panas… seperti ada sesuatu yang menekan punggungku dengan kuat. Rasanya panas sekali, gatal dan perih. Aku berteriak kesakitan. Charmaine hendak menolongku, tapi tante Mog melarangnya dan membiarkanku dalam keadaan seperti ini. Kemudian selama sedetik saja kurasakan rasa sakit yang belum pernah kurasakan sebelumnya. Aku berteriak sekuat tenaga…

“AHHH….!!!!” Jeritku. Setelah itu aku merasa seluruh tubuhku berat, dan punggungku… rasanya berat sekali… aku tidak bisa berdiri.. Aku terdiam dalam keadaan telungkup.

Tuesday, February 10, 2009

APERTURA (7)

Di saat aku sedang menikmati permen karetku, tiba-tiba dua anak laki-laki memperolok Charmaine, mereka bilang Charmaine seperti anak kecil, tidak bisa terbang lebih tinggi dari kepalaku. Lalu salah satu dari mereka ganti mengatai aku tak bisa terbang dan menggangguku. Aku sangat kesal dan ketakutan..

Tiba-tiba Charmaine menarik salah satu dari mereka yang menggangguku dan membantingnya lumayan jauh dari tempat kami. Anak laki-laki yang satunya terpana melihat kekuatan Charmaine. Tapi dia kemudian mendorong Charmaine menjauh dariku. Mereka terbang sangat tinggi dan mulai berdebat.

“Apa-apaan kamu, Jockle?! Lihat ini, aku bisa terbang setinggi kamu, kan?! Dan jangan ganggu dia!” kata Charmaine sambil menunjukku, “Dia temanku dan takkan kubiarkan kamu mengganggunya!”

“Temanmu? Wah..wah.. tak kusangka kamu punya teman… kamu kan cuma anak aneh yang selalu membahas tentang dunia manusia di bawah awan, iya kan? Siapa yang percaya tentang bualanmu?” kata laki-laki yang dipanggil Jockle itu.

“Tentu saja aku punya teman! Dasar laki-laki tidak berguna! Apa sih maumu mengganggu kami?!” bentak Charmaine.

Mereka terus berdebat sampai akhirnya memulai perkelahian mereka. Tanpa belas kasihan Jockle memukul Charmaine tepat di mukanya, namun Charmaine tak mau kalah. Ia membalasnya dengan bantingan khasnya, Jockle pun jatuh menerjang awan. Tapi ia segera bangkit lagi dan menendang Charmaine dengan kekuatan penuh, Charmaine kehilangan keseimbangan dan menukik tajam ke arahku. Ia berhenti mendadak tepat di depan mukaku. Dengan kesal ia terbang ke atas dan membalas Jockle, tapi dengan segenap kekuatannya Jockle menyikut dan menghantam Charmaine hingga ia terus menukik ke bawah.

Aku berteriak-teriak memanggil Charmaine, tapi ia tak menyahut. Jockle mulai terbang ke arahku dan Charmaine terlempar jauh, ia sudah hampir menabrak sebuah toko ketika kuhentakkan kakiku kuat-kuat dan melesat ke arahnya. Jockle terkejut melihatku sudah tak berada di tempatku. Segera saja kutangkap Charmaine.. uph! Berat… Kupanggil-panggil namanya, kutepuk pipinya sambil menahan berat badannya, dia sama sekali tidak bergerak. Kusandarkan dia pada kursi taman yang kutemukan di bawah. Setelah itu aku menjejakkan kakiku kembali dan terbang ke arah Jockle.

Angin segar menerpa wajahku, sungguh aku tidak menyadari bahwa aku bisa terbang! Jockle terkejut melihat kehadiranku. Dengan kesal kudorong tubuhnya ke arah pohon tinggi di belakangnya. Keinginanku untuk mengikat sayapnya terhenti ketika kusadari bahwa ia tak bersayap. Akhirnya aku hanya bisa terus-menerus memukulnya tanpa memikirkan akibatnya. Tiba-tiba ia menepis tanganku.

“Apa sih yang kamu lakukan?” tanyanya. Dia tak merasa kesakitan sedikitpun.

“Aku marah padamu!” bentakku, “Kamu membuat Charmaine pingsan dan kamu sama sekali tidak peduli dan tidak bertanggung jawab dan kasar, kejam, egois, menyebalkan dan tidak tahu diri dan pengecut, pengganggu dan … dan…” aku sangat kesal hingga kehabisan kata-kata untuk memarahinya.

Tiba-tiba ia menunjukkan jarinya ke bawah sambil berkata, “Sok tahu,” Aku pun melihat ke bawah, kulihat Charmaine melambaikan tangan padaku sambil meneriakkan sesuatu yang tidak bisa kudengar. “Siapa bilang Charmaine pingsan? Katanya kamu temannya, tapi kamu sama sekali tidak tahu apa-apa tentang dia. Kalau aku…” kata Jockle.

“Kalau kamu? Kamu kenapa?” tanyaku. Tapi ia hanya tersenyum sinis dan menyuruhku menghampiri Charmaine sambil terbang dan membawa pergi temannya yang sebelumnya dibanting oleh Charmaine. Kulihat Charmaine memanggilku dengan mata berbinar-binar. Tapi tiba-tiba aku ingat, aku berada di ataaa…ssss!!!!

Aku menukik tajam ke bawah, Charmaine dengan panik terbang menghampiriku dengan kecepatan penuh. Aku menggigil ketakutan sambil memegang tangan Charmaine erat-erat dan memejamkan mataku sambil berteriak keras, “Charmaine tolong bawa aku turuuunn!!!”

“Iya, iya! Tapi…uph! Jangan banyak bergerak… kamu berat….” Kata Charmaine sambil tertawa tergelak-gelak.

Tak terasa tiba-tiba kakiku akhirnya menyentuh tanah — maksudku awan — kembali. Dengan lega aku membuka mataku dan melepaskan peganganku. Napasku terengah-engah karena ketakutan. Sedetik kemudian Charmaine kembali membawaku terbang dengan kecapatan penuh. Aku menjerit ketakutan, ternyata ia membawaku ke rumahnya.

Dengan terburu-buru ia menarikku masuk ke dalam rumahnya dan berteriak-teriak memanggil mamanya. Mamanya segera datang ke arah kami sambil mengepakkan sayapnya. Wajahnya terlihat sangat cemas, wajahnya pucat. “Ada apa, Charmaine?” tanyanya, gemetaran.

“Jangan khawatir, Ma! Ini kabar gembira!” jerit Charmaine, riang.
“Maksudmu?” tanya mamanya, bingung.
“Iya, kabar gembira!! Apa mama tahu? Gracia bisa terbang!!” seru Charmaine, “Iya, ma! Terbang! Percayalah!”
“A..pa? Tapi Gracia kan… maaf… Gracia kan manusia..?” katanya, tak percaya dengan kata-kata Charmaine.
“Tapi benar, kok! Iya, kan Gracia? Kamu bisa terbang kan tadi?”

Aku mengangguk membenarkan kata-kata Charmaine. Mamanya memandangku tidak percaya. Akhirnya Charmaine mengajak kami keluar dan dia mengangkatku ke atas kemudian.. melepaskanku! Aku menjerit ketakutan dan berusaha sekuat tenaga agar tidak terjatuh. Aku mengerem di udara dan melayang sebentar sebelum kembali menggenggam tangan Charmaine erat-erat. Mamanya hanya bisa terpana melihatku.

Monday, February 9, 2009

APERTURA (6)

“Ah.. He..hebat sekali!!” seruku, “Bagaimana mungkin?! Kota ini benar-benar unik, Charmaine! Tapi bagaimana aku bisa pergi ke toko permen itu? Terlalu tinggi buatku. Atau kamu mau membelikanku sayap?”


Charmaine tergelak. “Apa kamu pikir ada yang menjual sayap di sini? Sayap ini sudah ada sejak kami dilahirkan. Kamu mau permen? Akan kubelikan satu permen spesial untukmu! Tunggu sebentar.” Katanya sambil terbang menuju toko permen yang bentuknya unik itu.


Tak lama kemudian dia kembali sambil membawa sekantong permen berlabelkan ‘floaty gum’. “Apa itu?” tanyaku, heran. Charmaine melemparkan kantong permen itu ke tanganku. Aku mengambil satu dan mencoba memakannya. Rupanya permen karet, apa yang aneh?


“Bagaimana? Enak, kan? Itu permen favoritku sewaktu kecil. Kamu tahu? Permen itu dapat membantu anak-anak kecil yang baru belajar terbang untuk melayang di angkasa tanpa menggunakan sayap! Kamu tertarik untuk mencoba terbang?” jelasnya.


“Apa? Aku bisa terbang?? Tapi.. aku kan manusia! Lagipula aku tak punya sayap sama sekali, Charmaine… Dan lagi aku takut ketinggian!” seruku, takjub.


“Kamu? Takut ketinggian? Mana mungkin… buktinya kamu berada di atas awan ini! Kamu tahu kan berapa ketinggian awan?” kata Charmaine, tidak percaya.


“Apa kamu tidak mendengar jeritan-jeritanku sewaktu kamu membawaku terbang? Tidak, Charmaine, aku tidak berani! Bahkan kalau perlu aku tidak ingin kembali ke bumi dengan cara terbang seperti tadi!” aku meyakinkannya. Tapi terus terang aku ingin juga mencoba terbang dengan kemampuanku sendiri.


“Aku melihatnya,” Charmaine tiba-tiba berkata padaku.
“Melihat apa? Ketakutanku?”
“Bukan,”
“Lalu apa?”


“Aku bisa melihat kalau kamu sebenarnya ingin sekali terbang. Iya, kan? Jangan menggeleng, Gracia! Sudahlah… aku bukan manusia biasa, kami para floater memiliki kemampuan yang berbeda dengan kalian.”


“Hhh… baiklah, aku mengaku!” seruku, menyerah. Kupikir tak ada gunanya menyangkal kata-katanya yang selalu terbukti benar itu. “Tapi aku masih tidak berani berada di tempat tinggi.. kalau aku berada di atas sana rasanya bumi menarikku ke bawah.. aku takut terjatuh…”


Charmaine tertawa, “Gracia… aku sudah pernah mengatakan padamu tentang dunia awan ini, kan? Bahwa pada malam hari suhunya dingin sekali? Bahwa kalau kau terjatuh kau takkan merasakan sakit separah di bumi? Percayalah Gracia, aku kan tidak pernah membohongimu.” katanya meyakinkanku.


Dia terus menerus mendesakku. Sebenarnya aku takut sekali berada di tempat tinggi. Inilah phobiaku, apa aku salah? Tapi,walau bagaimanapun juga aku memang harus percaya pada Charmaine. Aku pun mengangguk kecil padanya dan dia pun tersenyum padaku. Tapi … “Apa aku bisa terbang?” tanyaku, “Bukannya ini hanya untuk kalian para floaters? Aku kan manusia…”


“Ah, kau benar! Maafkan aku, Gracia. Aku benar-benar lupa, maaf… kapan-kapan aku akan membuatkan permen terbang yang khusus untuk manusia.” katanya untuk menghiburku.


“Tidak usah, aku justru senang karena tidak harus berada di tempat tinggi.” aku tersenyum padanya, “Tapi permen ini enak, aku boleh memakan semuanya, kan?”


“Tentu saja, itu kan memang kubelikan khusus untukmu!” Charmaine tertawa geli mendengar pertanyaan yang kuajukan.


Akhirnya kami hanya menghabiskan waktu dengan berjalan-jalan mengelilingi daerah sekitar. Sebetulnya aku merasa malu, karena selain kami tidak ada orang yang berjalan kaki, semua orang terbang dengan sayap mereka yang indah itu. Tapi sebagian dari mereka ada juga yang terbang tanpa sayap. Kulihat Charmaine begitu kelelahan, aku jadi tidak enak. Pantas saja kalau dia begitu lelah, dia sudah mengangkatku kemari, ke tempat yang jaraknya jauh sekali dari daratan. Lagipula mungkin ia tidak terbiasa berjalan kaki.


“Maafkan aku, Charmaine.” kataku tiba-tiba dan cukup membuatnya terkejut.


“Mengapa kamu minta maaf?” tanyanya keheranan, “ Kamu tidak salah apa-apa kan? Justru aku yang minta maaf karena tadi membuatmu pingsan.”


“Aku minta maaf karena kamu pasti lelah sekali waktu membawaku ke sini, lagipula kamu kan terbiasa terbang. Jadi kupikir sebaiknya kamu terbang saja, jangan pedulikan aku, toh aku masih bersamamu.” aku menjelaskan padanya.


“Hei, jangan begitu! Aku tidak apa-apa kok! Lihat, aku masih segar bugar, kan? Jangan khawatir, Gracia!”


“Aku tidak main-main, Charmaine… Kalau kamu tidak terbang, aku akan meloncat ke bumi sekarang juga!” ancamku.


Charmaine terheran-heran mendengar ancamanku. Aku menatapnya tajam untuk membuktikan keseriusanku. Dia terus memandangku dan… “Baiklah, aku kalah!” katanya sambil menghela nafas. Segera saja ia mengepakkan sayapnya yang berwarna putih bersih itu. Persis seperti seorang peri.


Ia melayang tidak lebih tinggi dari kepalaku, aku sudah mengajukan protesku tapi ia menolak. Ia balas mengancam, kalau aku terus memaksa ia yang akan melemparkanku ke bumi. Kupikir kami telah membuat ancaman-ancaman konyol, jadi kubiarkan saja ia terbang hanya setinggi kepalaku. Kami mengelilingi kota bersama-sama, Charmaine terlihat seperti pengawalku karena ia mengikutiku ke manapun aku ingin pergi. Dia bilang dunia ini masih asing bagiku, jadi aku memerlukan pengawal. Aku tak menolak selama itu tidak menyusahkannya. Kumakan sebungkus floaty gum yang dibelikan Charmaine itu. Aku suka sekali, rasamya manis dan lembut, belum pernah ada permen seenak ini di bumi.

Friday, February 6, 2009

APERTURA (5)

“Gracia? Gracia?” samar-samar kudengar seseorang memanggil namaku. Suara itu.. Kurasakan tepukan ringan di pipiku. Perlahan kubuka kedua mataku.. tempat ini sangat asing bagiku dan…


“Charmaine?” kataku, pelan. Aku bisa melihatnya, aku bisa melihat wajahnya yang unik itu tepat di depan mukaku.


“Ah! Kamu sudah sadar!” seru Charmaine riang, “Maafkan aku, Gracia… aku benar-benar lupa akan gesekan awan itu.. Selama ini aku tak pernah merasakan apa-apa saat menembusnya, tapi yah.. kamu kan manusia…”


Aku segera terduduk walau kepalaku terasa pusing sekali. Kutekan sisi kiri keningku dengan dua jari. “Apa yang kau katakan tadi? Aku manusia? Tentu saja! Memangnya kamu bukan manusia? Oh, ya tentu, kamu bukan manusia, kamu bersayap dan… hei! Mana sayapmu?” aku bertanya-tanya dengan penuh keheranan. Charmaine memang sangat ahli dalam membuatku terkejut dan terbingung-bingung.


“Kamu lucu, Gracia,” jawabnya sambil tertawa kecil, “Kamu lucu sekali. Tentu saja aku manusia! Tapi… seperti yang telah kukatakan : satu di antara ribuan temanmu adalah…”


“Manusia setengah peri?” potongku.


“Tepat sekali, Gracia.” Ia membenarkan, “Dan kamu sedang berada di dalam rumahku yang kau incar itu! Lihat, biasa saja, kan? Aku sama sekali bukan keluarga pejabat!” ia tergelak, “Dan… mau tak mau kamu harus percaya bahwa kamu sedang berada di atas awan! Kamu menyerah, kan? Aku punya bukti.”


“Tunggu dulu, Charmaine… apa maksudmu dengan manusia setengah peri? Kamu manusia penuh, kan? Lagipula.. awan adalah kumpulan air, maksudku uap air, jadi tak mungkin aku, dan kamu tentunya, sedang duduk di atas awan! Bagaimana mungkin awan yang ringan itu sanggup menopang berat rumah ini? Kamu hanya menghipnotisku, ya?” sanggahku.


“Graciaa…” kulihat wajahnya sedikit kesal, walaupun ia masih tertawa kecil, “Kamu pikir dalam awan ini hanya ada satu rumah?! Ikut aku sekarang!” lagi-lagi ia menarikku dengan tenaganya yang lumayan besar itu. Aku menurut saja.


Charmaine menarikku keluar dari kamarnya. Tampak seorang wanita paruh baya di depan pintu kamarnya. Dia menanyakan keadaanku dengan cemas, kukatakan bahwa aku baik-baik saja, tak ada yang perlu dikhawatirkan. Kemudian kami, maksudku aku dan Charmaine, berjalan keluar rumah mungil itu. Alangkah terkejutnya diriku saat kulihat sebuah kota! Ya, kota! Aku memandangnya dengan takjub. Bagaimana mungkin di dalam awan terdapat kota seindah ini?

Kota, atau lebih tepat kusebut negeri awan itu sangat indah, siapapun yang melihat pasti akan terpesona. Di tengah-tengah kota kulihat sebuah menara tinggi dan besar yang berbentuk unik dan berkilauan, di sekeliling menara itu terdapat taman yang besar berbentuk lingkaran mengellingi menara itu. Rumput-rumputnya yang biru (ya, biru!) tertata apik, di pinggir-pinggirnya terdapat beraneka macam bunga yang berwarna-warni. Charmaine mengatakan padaku bahwa ‘menara’ itu adalah gedung utama di kota ini. Semacam balai kota yang merupakan pusat pemerintahan.


Pemandangan selanjutnya akan membuat siapa saja terkejut. Tata kota ini sangat unik. Rumah-rumah penduduk berada di sekitar gedung utama, masing masing berjarak sekitar lima ratus meter dari gedung utama, sementara jarak antar rumah itu sendiri sekitar sepuluh meter. Selanjutnya, Charmaine menyuruhku melihat ke atas. Ternyata di atas kepala kami, maksudku di atas kota ini, terdapat bangunan-bangunan yang melayang. Charmaine menjelaskan bahwa bangunan-bangunan melayang itu adalah toko-toko dan supermarket. Sementara setiap 5 rumah memiliki satu ‘helper’ (di bumi mungkin disebut rumah sakit tapi helper mencakup bantuan yang cukup luas, tidak hanya dalam bidang medis); 5 rumah beserta 1 helper itu membentuk sebuah segitiga dan helper ituberada di ujungnya.


“Bagaimana?” tanya Charmaine, mengagetkanku.

APERTURA (4)

Lama sekali menunggu hingga Charmaine mengizinkan aku datang ke rumahnya. Hingga waktu yang sangat kutunggu itu tiba, aku terus merasa tidak sabar. Tapi akhirnya, di suatu sore yang hangat sepulang sekolah…

“Ikutlah denganku,” katanya tiba-tiba.

“Apa?” tanyaku, “Tapi… kamu mau ke mana? Hari ini aku harus pergi ke tempat les… Mama akan menghukumku kalau aku tidak mengikuti les hari ini..”

“Aku tahu, aku tahu…” katanya sambil tersenyum misterius, “Tapi kesempatan ini hanya sekali, Gracia. Kamu pasti tahu ke mana aku akan mengajakmu. Aku akan mengajakmu ke suatu tempat yang sudah lama kau nantikan. Atau.. kamu lebih tertarik pergi ke tempat lesmu?”

“Tapi apa maksudmu? Tempat apa yang kau tuju?” dengan penuh tanda tanya aku menanyakan hal itu padanya.

“Wah.. wah… kamu sudah lupa, ya? Bukankah kamu yang memaksa aku waktu itu? Kalau begitu kamu memang tidak berminat, ya? Baiklah, selamat menikmati lesmu, ya!” jawabnya penuh rahasia. Dia tetap tak mengatakannya padaku, katanya akulah yang harus menebak tujuannya. Aku terus bertanya-tanya hingga tak terasa waktu lesku telah terlewat selama setengah jam. Mau bagaimana lagi?

“Baiklah, Charmaine, aku ikut denganmu. Aku sudah terlambat untuk pergi ke tempat les. Sepertinya rasa penasaranku lebih besar dari ketakutanku pada mama.” aku memutuskan, “Tapi sebenarnya kita mau pergi ke mana?”

“Ikuti aku!” katanya. Tiba-tiba Charmaine berlari sekuat tenaga ke arah utara. Aku berlari mengejarnya dan berteriak-teriak, “Charmaine! Tunggu dulu!!” tapi dia sama sekali tidak menoleh padaku. Rasanya seluruh tenagaku terkuras habis saat itu. Dia terus berlari dan aku mengejarnya hingga tak kusadari kami telah sampai di sebuah hutan kota. Hutan itu sangat sepi hingga aku seperti mendengar denyut nadiku sendiri.

“Charmaine..” kataku sambil terengah-engah, “di mana ini? Aku tak pernah tahu tempat ini, apalagi ingin pergi ke sini…”

“Ini baru langkah awal, Gracia, tenang sedikit! Sekarang kamu pegang tanganku dan.. sebaiknya simpan saja tas kita di gubuk itu. Apa? Tidak.. tidak akan hilang, gubuk itu milikku. Ayolah, aku keberatan kalau kau membawa tasmu.”

Dengan berat hati aku menuruti kata-katanya, kutinggalkan tasku di gubuk reyot itu. Tapi untuk apa dia membangun gubuk di tempat seperti ini? Tiba-tiba tangan Charmaine menarikku dengan keras.

“Cepat!” katanya, “Untuk mencapai rumahku harus begini caranya!” aku terkejut. Rupanya dia mengajakku ke rumahnya. Aku senang sekaligus heran, di mana rumahnya? Mengapa harus menelusuri hutan yang sunyi, lebat, dan tersembunyi seperti ini? Dia terus menarikku sambil berlari tanpa memberi waktu sedikitpun bagiku untuk bertanya.

Kami terus berlari kencang sekali, sampai-sampai aku tak merasa kakiku menginjak tanah. Charmaine dengan mudahnya menyeruak semak-semak dan pepohonan yang dilaluinya, dia membuka jalan untukku. Kami terus berlari hingga kulihat cahaya di kejauhan, kupikir kami sudah sampai. Tapi Charmaine tak mengurangi kecepatannya, ia justru mempercepat langkahnya, Aku tidak dapat melihat apa-apa di ujung sana. Charmaine menggenggamku dengan erat, tiba-tiba… ini sungguhan!! Charmaine tak menghentikan langkahnya ketika kulihat tebing di ujung jalan itu! Aku mencoba melepaskan diri, tapi gagal. Kami pun jatuh ke bawah.

“CHARMAINE…!!!!!” jeritku, “AP... APA YANG KAU LAKUKAAAN…?!!!” aku terus menjerit. Di bawah terlihat bebatuan tajam dengan aliran sungai deras menanti kami. Aku ketakutan. Kupejamkan mataku kuat-kuat, kurasakan tangan Charmaine menggenggam erat tanganku. Aku berteriak keras sementara tak kudengar suara Charmaine sedikitpun. Aku terus berdoa… cukup lama aku berdoa… dan berdoa lagi... tunggu, ini terlalu lama. Aku.. aku masih hidup! Apa yang terjadi…? Kubuka mataku dan…

Kami terbang!!

Tunggu, lebih tepat kalau kukatakan bahwa Charmaine yang terbang membawaku. Tapi tetap saja aneh. Sungguh mengherankan! Apa aku sedang bermimpi? Kami hampir saja menabrak burung merpati yang sedang terbang! Kualihkan pandanganku kembali pada Charmaine, dia… dia bersayap!!

“Charmaine! Apa yang terjadi?! Ada apa denganmu, HEI!” aku terkejut ketika ia terbang lebih tinggi lagi. Terus terang aku takut ketinggian. “Charmaine! Katakan sesuatu! Katakan ini mimpi!” aku menjerit ketakutan ketika Charmaine menukik tajam. Kukira kami akan jatuh.

“Jangan banyak bergerak, Gracia! Kamu cukup berat…” jawab Charmaine, wajahnya basah penuh keringat. Aku tahu, tentu saja berat baginya mengangkatku terbang. Bisa kubayangkan betapa lelahnya ia. Aku pun tutup mulut dan tak banyak bergerak selain menghindari burung-burung yang hampir menabrakku. Charmaine menarikku terbang menuju awan. Tinggi sekali.

Kami menembus awan yang besar itu. Aku berpegangan erat pada Charmaine saat kulit-kulit awan itu menggesekku seakan ingin melepaskan genggaman tanganku. Aku berpegangan dengan kedua tanganku, Charmaine mengatakan sesuatu yang tidak jelas karena tertutup bunyi berdengung dari awan-awan itu. Aku menjerit kesakitan ketika tubuhku menabrak awan putih itu. Tak pernah kusangka sebelumnya, awan yang kukira selembut kapas itu ternyata begini menyakitkanku. Telingaku pun berdenging serasa mau pecah. Kami terus maju menembus awan itu, aku tak tahu ke mana Charmaine membawaku. Aku terus bergesekan dengan awan, dan berkali-kali pula Charmaine meneriakkan sesuatu padaku. Tapi rasanya kekuatanku sudah terkuras habis, ditambah dengan rasa sakit dan dengungan di telingaku… Terakhir kali aku hanya ingat lapisan awan yang berwarna putih seperti kabut tebal itu menutupi mataku, setelah itu aku tak tahu apa yang terjadi……

Thursday, February 5, 2009

APERTURA (3)

Ia berbicara panjang lebar sementara aku sama sekali tak bisa berkata-kata. Dia benar-benar mengejutkanku. Saat ini aku hanya dapat meyakini pernyataannya bahwa dia bukan bagian dari keluarga pejabat itu, walaupun aku merasa dia memang mirip keluarga bangsawan. Tapi tentu saja aku tak mau kehilangan sahabatku yang unik ini. Lagipula ia sudah merubah cara hidupku yang buruk. Begitu banyak kebaikan yang telah ia lakukan padaku. “Aku mengerti.” Saat itu aku benar-benar tidak sadar dengan apa yang telah kuucapkan! Sebetulnya aku ingin dia benar-benar menyesal dulu, tapi.. apa yang membuatku mengatakan hal itu?

“GRACIA!” pekik Charmaine, “Aku.. aku yakin kamu pasti mau mengerti! Aku berjanji suatu saat, entah kapan, aku akan mengajakmu ke rumahku! Aku tidak peduli walau harus melanggar segala peraturan yang ada!”

“Peraturan? Peraturan apa? Kau semakin misterius, Charmaine! Jadi benar kan orang tuamu tak mengizinkan seorangpun datang ke rumahmu?”

“Yah… mungkin bisa dikatakan begitu?”

Aku sebenarnya masih ingin bertanya banyak hal padanya, tapi kulihat dia sepertinya ingin segera mengakhiri percakapan yang menyangkut dirinya itu. Charmaine, ia memang penuh misteri. Ketika hal itu kuungkapkan padanya, dia malah menjawab dengan gayanya yang biasa, “Gracia, kau pikir hanya aku yang tampak penuh misteri? Kalau kau berpikir begitu tentu salah, Gracia. Setiap orang di dunia ini merupakan sebuah misteri. Kau mengerti, kan?” dan aku hanya mengangguk walaupun sesungguhnya aku tidak begitu mengerti.

Selanjutnya, hari-hari kami berjalan seperti biasa tanpa ada hal-hal yang mengganggu kami. Charmaine, seperti biasanya, berusaha meyakinkanku tentang hal yang paling disukainya, floaters. Terus terang aku tak habis pikir mengapa ia bisa membuat pemikiran seperti itu. Semua orang tahu manusia tak pernah bisa terbang, lalu mengapa ia berpendapat begitu?

“Kalau kau jadi aku, tentu kamu akan mempercayainya,” katanya sambil tersenyum penuh rahasia.

“Tentu saja, karena aku menggunakan otakmu. Tapi sayangnya aku bukan kamu, dan rasanya terbang itu mustahil.” perkataanku membuatnya tertawa.

“Rupanya pemikiranmu berkembang, Gracia. Tapi apa kamu benar-benar yakin? Apa kamu pernah meneliti semua manusia di dunia ini, termasuk di tempat-tempat tersembunyi seperti di awan? Kalaupun kamu mengenali semua manusia di dunia, tapi kamu belum mengetahui jati diri dan keadaan mereka sepenuhnya, kan? Hei, hei jangan heran begitu, Gracia! Aku cuma memberikan pendapatku.”

Terus terang aku terpengaruh perkataannya. Memang benar aku tidak pernah meneliti semua manusia di dunia ini. Tentu saja! Bagaimana mungkin?! Tiba-tiba aku teringat sesuatu dan membalas perkataannya tadi, “Kamu juga belum pernah meneliti manusia kan? Lalu bagaimana bisa kamu begitu yakin akan adanya manusia yang bisa terbang dan tinggal di awan?”

“Kamu cerdik juga, Gracia! Aku hampir kalah!” katanya sambil tertawa, “Kamu tidak pernah menyangka, kan kalau…” ucapannya terhenti.

“Kenapa? Aku tak pernah menyangka apa?” tanyaku, heran.

“Kau tahu, kan? Suatu saat aku akan mengajakmu ke rumahku, di sanalah kamu bisa mendapatkan jawabannya sekaligus mempercayai kata-kataku. Bagaimana?”

“Baiklah,” jawabku sedikit ragu-ragu.

“Suaramu penuh keraguan. Percayalah padaku, kamu tahu kan aku tak pernah berbohong padamu? Walaupun aku memang menyembunyikan identitasku..” Charmaine kelihatan tidak enak padaku sehingga aku akhirnya mengangguk juga.

APERTURA (2)

Saat itu aku ingin sekali berkunjung ke rumah Charmaine, sahabatku. Aku penasaran, lingkungan seperti apa yang membuatnya begitu cerdas dan berbeda. Sayangnya Charmaine selalu menolak ketika aku menyatakan keinginanku. Ketika kuajak dia ke rumahku, ia juga menolak.

“Tapi Charmaine, apa salahnya kamu pergi ke rumahku sebentar saja?” tanyaku.

“Sudah pernah kukatakan Gracia. Kamu takkan pernah mengerti. Aku akan sangat kesulitan jika tidak pulang tepat waktu. Mengertilah jika kau benar-benar sahabatku.” jelasnya.

“Apakah orang tuamu tak mengizinkan?” aku kembali bertanya.

“Bukan itu. Tentu saja aku tak bisa mejelaskannya padamu. Kamu tahu Gracia? Setiap orang memiliki tempat yang berbeda, dan aku yakin tempatku bukanlah tempatmu.” Charmaine terus menolak ajakanku. Dan perkataannya itu sungguh menyakitkanku.

“Jadi apa maksudmu dengan pernyataan itu? Maksudmu rakyat biasa sepertiku tidak boleh berteman dengan dirimu yang... entah anak pejabat mana atau pewaris perusahaan besar? Begitu?? Ternyata aku salah menilaimu...” dengan kesal aku mengucapkan semua kata-kata itu.

“Bukan, Gracia. Bukan itu maksudku.. kamu salah paham! Sudah kubilang kamu tidak akan mengerti maksudku!!” walaupun Charmaine bersikeras meyakinkanku bahwa dia bukan golongan bangsawan, tapi dia telah mengatakan hal yang menyakitkan hatiku. Saat itu aku hanya berpikir untuk menjauhinya.

Hari-hari berikutnya kulalui tanpa menghiraukan Charmaine. Ia terus-menerus mengejarku, tapi aku berjanji takkan pernah mendekatinya lagi setelah segala perkataannya yang menusuk hatiku waktu itu. Kali ini Charmaine benar-benar tak memiliki seorang teman pun. Sebenarnya aku merasa kasihan padanya, tapi tentunya aku tak terima direndahkan seperti itu. Mungkinkah hal ini pernah menimpa teman-temanku sehingga mereka menjauhi Charmaine? Mungkin saja. Aku benci sekali padanya. Aku sangat mengagumi dan bangga padanya, tapi apa yang dia lakukan terhadapku? Dia menghinaku seakan-akan semua orang yang tidak selevel dengannya tidak ada artinya di dunia ini!

Dengan perasaan kesal aku pergi meninggalkan kelas menuju perpustakaan pada jam istirahat. Mungkin tumpukan buku-buku itu dapat menenangkanku. Aku teringat kembali akan masa-masa saat aku masih bersama Charmaine. Sebelum aku mengenalnya, aku adalah seorang gadis yang tidak mengerti apa-apa. Perpustakaan adalah salah satu tempat yang paling kubenci. Tapi setelah aku mengenalnya, hari-hariku dipenuhi buku-buku yang tak pernah kusentuh sebelumnya. Terus terang aku merindukannya…

“ Gracia,” kudengar seseorang memanggilku dari arah belakang. Kupalingkan mukaku.

Charmaine. Oh, ya.. tentu saja seorang pewaris perusahaan besar perlu banyak belajar dengan menghabiskan waktunya di perpustakaan. Bodohnya aku, berusaha menghindarinya ke perpustakaan. Aku segera pergi menghindarinya.

“Tunggu!” teriaknya, “Tunggu dulu, aku mau bicara!” Beberapa guru yang bertugas di dalam perpustakaan berdehem akibat teriakannya itu. Tapi Charmaine, suaramu terdengar berbeda sehingga kuyakin para guru itu tidak akan menyangka bahwa kau-lah yang berteriak, bukan aku. Saat itu suaramu terdengar parau, tidak seperti biasanya. Aku mengenalmu, suaramu sangat halus dan selalu berbicara dengan kalimat yang terjalin rapi. Suatu bukti yang menguatkan bahwa kamu memang bukan orang sembarangan.

“Mau apa lagi? Kamu mau bilang sebaiknya aku pindah dari sekolah ini supaya tidak mengganggumu? Kamu ingin aku tidak menginjakkan kaki perpustakaan ini? Sayang sekali Nona Dominic, aku akan tetap bersekolah di sini. Sudah cukup kan kamu menghinaku?!” dengan tegas aku berkata tanpa menghiraukan seisi perpustakaan yang melihat ke arah kami.

“Cukup Gracia, cukup…” ia berbisik dengan putus asa, “ Aku tidak pernah menghinamu, sudah kubilang kamu hanya salah sangka… Semua dugaanmu tentangku itu salah, Gracia… Aku bahkan tidak pernah tahu siapa pejabat atau pengusaha yang kau maksud dan kapan mereka datang kemari! Aku tidak tahu, Gracia… tidak tahu…” Charmaine berkata-kata sambil menarikku menjauh dari perpustakaan itu. Aku mencoba berontak, tapi ternyata tenaganya cukup kuat untuk menarikku.

“Apa maumu, Char…” tindakannya selanjutnya sangat mengejutkanku. Ia menangis. Ya, Charmaine yang selama ini terlihat sangat kuat dan tegas di mataku menangis tersedu-sedu di depanku. Saat itu aku sungguh tidak tahu apa yang membuatnya begitu lemah dan mengubah semua kepribadiannya. Seperti bisa membaca pikiranku, ia berkata, “Karena kamu, Gracia!”

“Eh.. apa? Aku?” tanyaku, terkejut.

“Ya, tindakanmu akhir-akhir ini membuatku sangat menderita, kau tahu?” ia melanjutkan sambil terisak-isak, “Kamulah satu-satunya orang yang mau menjadi temanku di sekolah ini, tak ada yang mau berteman denganku… Tapi kamu malah pergi menjauhiku hanya karena kesalahpahaman itu, bagaimana aku tidak merasa sakit, Gracia…? Mengertilah.. aku tak pernah meninggikan derajatku.. Bahkan mungkin kamu justru memiliki sesuatu yang ‘lebih’ dibanding diriku… Kalau aku bisa mengajakmu datang ke rumahku, tentu kuizinkan, Gracia… Tapi keadaanku yang tidak memungkinkan…”