Sesuai perintahnya, aku duduk bersila di depannya sementara tante Moghrain tampak sedang membacakan sesuatu, mungkin mantra atau apa, yang jelas mulutnya tampak berkomat-kamit. Cukup lama juga ia membaca ‘mantra’ itu. Setelah ia selesai, tiba-tiba di sekeliling tubuhku tampak seberkas cahaya putih menyinariku. Tante Mog tersenyum lembut ke arahku, dan aku bisa melihat kegembiraan di matanya.
“Memang benar, Charmaine,” katanya ketika Charmaine kembali.
“Apanya yang benar? Bukankah aku sudah tahu kalau Gracia memang benar bisa terbang? Mama yang tidak percaya, kan?” tanya Charmaine, tidak mengerti.
“Kamu tidak tahu? Mama sudah pernah bilang, kan? Satu dari sekian banyak manusia seluruh dunia adalah manusia pilihan, dia memang manusia tapi memiliki kemampuan seperti kita! Lagipula orang seperti itu hanya muncul sepuluh tahun sekali, boleh dibilang dia adalah seorang nondariber.” Tante Mog menjelaskannya.
“Aku? Manusia spesial?” tanyaku keheranan, “Mana mungkin! Aku bahkan takut ketinggian, mana mungkin aku bisa menjadi… menjadi… apa tadi? Nondibeble? Nombideble?”
Tante Mog tersenyum, “Nondariber, Gracia.” Katanya, “Nondariber adalah julukan dari kami bagi manusia yang spesial itu.”
“Tapi Gracia terbang dengan bantuan floaty gum, bukan dengan sayapnya sendiri, Ma.” balas Charmaine.
“Karena itulah dia perlu golden float. Kalian pasti tidak tahu apa itu golden float.” lanjut Tante Mog, “Golden float adalah sayap khusus bagi para nondariber untuk membantu mereka terbang. Golden float sudah ada sejak dulu dan diwariskan secara turun-temurun melalui kami, para floaters. Tidak semua nondariber bisa memilikinya karena tidak semua nondariber dapat bertemu dengan kami, para floaters. Kalian mengerti?” tante Mog menjelaskan panjang lebar.
“Aku mengerti,” kata Charmaine, “tapi aku masih tidak percaya kalau Gracia… Lagipula mana mungkin dia bisa terbang dengan butiran pasir ini?” benda yang dibawa Charmaine memang nampak seperti butiran pasir halus yang tersimpan di dalam sebuah kotak emas.
“Aku sendiri juga tidak percaya.” kataku.
Tante Mog lagi-lagi tersenyum padaku. Ia mengambil kotak berisi butiran emas itu. “Inilah golden float,” jelasnya, “kalian tentu saja tidak akan percaya sampai kalian melihatnya sendiri. Kemarilah Gracia.”
Aku mendekat ke arahnya. Ketika ia membuka kotak emas itu, tampak butiran-butiran halus di dalamnya berkilauan. Dia mengambilnya segenggam dan mengucapkan sesuatu dalam bahasa yang sulit kumengerti, kemudian ia menaburkan serbuk itu di atas kepalaku dan menyentuh keningku sambil tetap mengucapkan kalimat aneh itu. Aku hanya diam dan memperhatikannya. Tiba-tiba ia berdiri dan mengitariku. Aku menoleh ke arahnya.
“Jangan mengalihkan pandanganmu!” katanya tiba-tiba.
Aku tidak berani membantah perintahnya dan segera memalingkan wajahku kembali. Lama sekali aku tidak mendengar suaranya. Aku hanya diam, tak berani menoleh ke arahnya dan begitu juga Charmaine. Di tengah-tengah keheningan itu, tiba-tiba aku merasakan sesuatu jatuh di punggungku, sesuatu yang halus, sepertinya butiran pasir tadi. Dan… kurasakan punggungku panas, panas dan semakin panas… seperti ada sesuatu yang menekan punggungku dengan kuat. Rasanya panas sekali, gatal dan perih. Aku berteriak kesakitan. Charmaine hendak menolongku, tapi tante Mog melarangnya dan membiarkanku dalam keadaan seperti ini. Kemudian selama sedetik saja kurasakan rasa sakit yang belum pernah kurasakan sebelumnya. Aku berteriak sekuat tenaga…
“AHHH….!!!!” Jeritku. Setelah itu aku merasa seluruh tubuhku berat, dan punggungku… rasanya berat sekali… aku tidak bisa berdiri.. Aku terdiam dalam keadaan telungkup.
