Janganlah kau memaksa diri untuk bangun ketika sedang terlena di alam mimpi. Ketika keceriaan berganti duka, kau akan kembali ke jalan hidupmu yang sesungguhnya.
Kata-kata yang dituliskan Charmaine khusus untukku itu tak pernah hilang dari benakku. Hingga saat ini aku sama sekali tak mengerti apa maksud dari tulisan itu, padahal waktu telah berlalu lebih dari tiga tahun sejak aku berpisah dengan Charmaine…
Kata-kata yang dituliskan Charmaine khusus untukku itu tak pernah hilang dari benakku. Hingga saat ini aku sama sekali tak mengerti apa maksud dari tulisan itu, padahal waktu telah berlalu lebih dari tiga tahun sejak aku berpisah dengan Charmaine…
Charmaine, nama itu takkan pernah kulupakan. Untuk pertama kalinya dalam hidupku aku memiliki teman yang sedemikian uniknya hingga bila kuceritakan tentangnya tentu jarang yang mempercayainya.
Sejak pertama kedatangannya di sekolahku, aku — dan sepertinya teman-teman yang lain juga — sudah mulai tertarik padanya. Bukan hanya karena kecantikannya yang membuat kaum laki-laki terpesona, tapi atas kecerdasannya yang luar biasa. Ia mengetahui apa yang jarang diketahui oleh orang lain. Buah pikirannya pun demikian unik. Ia memikirkan apa yang dianggap lalu oleh orang lain, namun hal itu justru membuahkan kekaguman di hati kami.
Apa yang membuatku sangat tertarik padanya adalah pemikirannya tentang kehidupan manusia. Ia berkata padaku dengan sungguh-sungguh bahwa ia percaya akan adanya “floaters”. Itu istilah yang sering ia gunakan untuk menyebut orang-orang yang dapat terbang di angkasa. Awalnya aku hanya tertawa terbahak-bahak mendengar apa katanya, namun setelah mendengar penjelasan darinya aku justru terpana dan merasa daya pikirku turut terinvasi olehnya. Tanpa ragu pula ia membuat lencana yang bertuliskan “floaters” dan menyebarkannya kepada anak-anak lain di sekolahku. Aku benar-benar tidak percaya ia bersungguh-sungguh, kupikir ia hanya sekedar mengkhayal atau berpikir untuk kepuasan pribadinya saja.
Kepercayaan Charmaine akan adanya hal-hal yang menurut semua orang tidak mungkin sempat membuatku terheran-heran. Aku menyangka ada yang tidak beres pada pemikirannya. Dia pernah berkata padaku dengan yakin, “ Kamu percaya akan adanya peri? Aku percaya, dan aku yakin satu di antara ribuan teman-temanmu adalah manusia setengah peri. Mereka tinggal di angkasa luas.”
Aku terkejut mendengar kata-katanya itu. Selama ini aku tak pernah percaya akan adanya peri, apalagi jika ternyata peri-peri itu adalah salah satu dari teman-temanku. Hal inilah yang membuat satu persatu temanku meninggalkannya. Mereka menganggap Charmaine tidak sadar akan apa yang dikatakannya. Lebih parah lagi ada yang menganggapnya gila. Charmaine pun semakin hari semakin terlihat murung, lebih murung dari biasanya. Sering kulihat dia menerawang jauh ke langit yang biru. Ketika kutanya mengapa…
“Kau tahu bagaimana rasanya hidup di awan? Tidak jauh berbeda dengan di bumi. Hanya saja kamu tidak akan kesakitan jika terjatuh di awan, dan kamu akan merasa terpanggang di siang hari, namun menggigil kedinginan bila malam tiba.” jawabnya.
Walaupun sudah berkali-kali ia berkata seperti itu padaku, aku tetap tak mengerti dengan jalan berpikirnya. Bahkan mungkin orang paling jenius di dunia pun tak akan memahami betul apa yang dia maksud. Aku pernah mengungkapkan keraguanku itu padanya, tapi lagi-lagi ia menjawab dengan kata-kata yang sepertinya mengandung suatu makna yang tersirat di dalamnya, ”Kamu bukan tak mengerti, Gracia. Bukan. Kamu hanya berpikir terlalu mudah. Begitulah manusia. Mereka hanya mempercayai apa yang mereka lihat dan meyakini apa yang mereka dengar. Kalaupun kau mengerti, kau tak akan memahami,” katanya. Hampir saja aku menjauhinya seperti teman-temanku yang lain, namun sesuatu terjadi…
(to be continued)
