Tuesday, February 10, 2009

APERTURA (7)

Di saat aku sedang menikmati permen karetku, tiba-tiba dua anak laki-laki memperolok Charmaine, mereka bilang Charmaine seperti anak kecil, tidak bisa terbang lebih tinggi dari kepalaku. Lalu salah satu dari mereka ganti mengatai aku tak bisa terbang dan menggangguku. Aku sangat kesal dan ketakutan..

Tiba-tiba Charmaine menarik salah satu dari mereka yang menggangguku dan membantingnya lumayan jauh dari tempat kami. Anak laki-laki yang satunya terpana melihat kekuatan Charmaine. Tapi dia kemudian mendorong Charmaine menjauh dariku. Mereka terbang sangat tinggi dan mulai berdebat.

“Apa-apaan kamu, Jockle?! Lihat ini, aku bisa terbang setinggi kamu, kan?! Dan jangan ganggu dia!” kata Charmaine sambil menunjukku, “Dia temanku dan takkan kubiarkan kamu mengganggunya!”

“Temanmu? Wah..wah.. tak kusangka kamu punya teman… kamu kan cuma anak aneh yang selalu membahas tentang dunia manusia di bawah awan, iya kan? Siapa yang percaya tentang bualanmu?” kata laki-laki yang dipanggil Jockle itu.

“Tentu saja aku punya teman! Dasar laki-laki tidak berguna! Apa sih maumu mengganggu kami?!” bentak Charmaine.

Mereka terus berdebat sampai akhirnya memulai perkelahian mereka. Tanpa belas kasihan Jockle memukul Charmaine tepat di mukanya, namun Charmaine tak mau kalah. Ia membalasnya dengan bantingan khasnya, Jockle pun jatuh menerjang awan. Tapi ia segera bangkit lagi dan menendang Charmaine dengan kekuatan penuh, Charmaine kehilangan keseimbangan dan menukik tajam ke arahku. Ia berhenti mendadak tepat di depan mukaku. Dengan kesal ia terbang ke atas dan membalas Jockle, tapi dengan segenap kekuatannya Jockle menyikut dan menghantam Charmaine hingga ia terus menukik ke bawah.

Aku berteriak-teriak memanggil Charmaine, tapi ia tak menyahut. Jockle mulai terbang ke arahku dan Charmaine terlempar jauh, ia sudah hampir menabrak sebuah toko ketika kuhentakkan kakiku kuat-kuat dan melesat ke arahnya. Jockle terkejut melihatku sudah tak berada di tempatku. Segera saja kutangkap Charmaine.. uph! Berat… Kupanggil-panggil namanya, kutepuk pipinya sambil menahan berat badannya, dia sama sekali tidak bergerak. Kusandarkan dia pada kursi taman yang kutemukan di bawah. Setelah itu aku menjejakkan kakiku kembali dan terbang ke arah Jockle.

Angin segar menerpa wajahku, sungguh aku tidak menyadari bahwa aku bisa terbang! Jockle terkejut melihat kehadiranku. Dengan kesal kudorong tubuhnya ke arah pohon tinggi di belakangnya. Keinginanku untuk mengikat sayapnya terhenti ketika kusadari bahwa ia tak bersayap. Akhirnya aku hanya bisa terus-menerus memukulnya tanpa memikirkan akibatnya. Tiba-tiba ia menepis tanganku.

“Apa sih yang kamu lakukan?” tanyanya. Dia tak merasa kesakitan sedikitpun.

“Aku marah padamu!” bentakku, “Kamu membuat Charmaine pingsan dan kamu sama sekali tidak peduli dan tidak bertanggung jawab dan kasar, kejam, egois, menyebalkan dan tidak tahu diri dan pengecut, pengganggu dan … dan…” aku sangat kesal hingga kehabisan kata-kata untuk memarahinya.

Tiba-tiba ia menunjukkan jarinya ke bawah sambil berkata, “Sok tahu,” Aku pun melihat ke bawah, kulihat Charmaine melambaikan tangan padaku sambil meneriakkan sesuatu yang tidak bisa kudengar. “Siapa bilang Charmaine pingsan? Katanya kamu temannya, tapi kamu sama sekali tidak tahu apa-apa tentang dia. Kalau aku…” kata Jockle.

“Kalau kamu? Kamu kenapa?” tanyaku. Tapi ia hanya tersenyum sinis dan menyuruhku menghampiri Charmaine sambil terbang dan membawa pergi temannya yang sebelumnya dibanting oleh Charmaine. Kulihat Charmaine memanggilku dengan mata berbinar-binar. Tapi tiba-tiba aku ingat, aku berada di ataaa…ssss!!!!

Aku menukik tajam ke bawah, Charmaine dengan panik terbang menghampiriku dengan kecepatan penuh. Aku menggigil ketakutan sambil memegang tangan Charmaine erat-erat dan memejamkan mataku sambil berteriak keras, “Charmaine tolong bawa aku turuuunn!!!”

“Iya, iya! Tapi…uph! Jangan banyak bergerak… kamu berat….” Kata Charmaine sambil tertawa tergelak-gelak.

Tak terasa tiba-tiba kakiku akhirnya menyentuh tanah — maksudku awan — kembali. Dengan lega aku membuka mataku dan melepaskan peganganku. Napasku terengah-engah karena ketakutan. Sedetik kemudian Charmaine kembali membawaku terbang dengan kecapatan penuh. Aku menjerit ketakutan, ternyata ia membawaku ke rumahnya.

Dengan terburu-buru ia menarikku masuk ke dalam rumahnya dan berteriak-teriak memanggil mamanya. Mamanya segera datang ke arah kami sambil mengepakkan sayapnya. Wajahnya terlihat sangat cemas, wajahnya pucat. “Ada apa, Charmaine?” tanyanya, gemetaran.

“Jangan khawatir, Ma! Ini kabar gembira!” jerit Charmaine, riang.
“Maksudmu?” tanya mamanya, bingung.
“Iya, kabar gembira!! Apa mama tahu? Gracia bisa terbang!!” seru Charmaine, “Iya, ma! Terbang! Percayalah!”
“A..pa? Tapi Gracia kan… maaf… Gracia kan manusia..?” katanya, tak percaya dengan kata-kata Charmaine.
“Tapi benar, kok! Iya, kan Gracia? Kamu bisa terbang kan tadi?”

Aku mengangguk membenarkan kata-kata Charmaine. Mamanya memandangku tidak percaya. Akhirnya Charmaine mengajak kami keluar dan dia mengangkatku ke atas kemudian.. melepaskanku! Aku menjerit ketakutan dan berusaha sekuat tenaga agar tidak terjatuh. Aku mengerem di udara dan melayang sebentar sebelum kembali menggenggam tangan Charmaine erat-erat. Mamanya hanya bisa terpana melihatku.

No comments:

Post a Comment