Thursday, February 5, 2009

APERTURA (2)

Saat itu aku ingin sekali berkunjung ke rumah Charmaine, sahabatku. Aku penasaran, lingkungan seperti apa yang membuatnya begitu cerdas dan berbeda. Sayangnya Charmaine selalu menolak ketika aku menyatakan keinginanku. Ketika kuajak dia ke rumahku, ia juga menolak.

“Tapi Charmaine, apa salahnya kamu pergi ke rumahku sebentar saja?” tanyaku.

“Sudah pernah kukatakan Gracia. Kamu takkan pernah mengerti. Aku akan sangat kesulitan jika tidak pulang tepat waktu. Mengertilah jika kau benar-benar sahabatku.” jelasnya.

“Apakah orang tuamu tak mengizinkan?” aku kembali bertanya.

“Bukan itu. Tentu saja aku tak bisa mejelaskannya padamu. Kamu tahu Gracia? Setiap orang memiliki tempat yang berbeda, dan aku yakin tempatku bukanlah tempatmu.” Charmaine terus menolak ajakanku. Dan perkataannya itu sungguh menyakitkanku.

“Jadi apa maksudmu dengan pernyataan itu? Maksudmu rakyat biasa sepertiku tidak boleh berteman dengan dirimu yang... entah anak pejabat mana atau pewaris perusahaan besar? Begitu?? Ternyata aku salah menilaimu...” dengan kesal aku mengucapkan semua kata-kata itu.

“Bukan, Gracia. Bukan itu maksudku.. kamu salah paham! Sudah kubilang kamu tidak akan mengerti maksudku!!” walaupun Charmaine bersikeras meyakinkanku bahwa dia bukan golongan bangsawan, tapi dia telah mengatakan hal yang menyakitkan hatiku. Saat itu aku hanya berpikir untuk menjauhinya.

Hari-hari berikutnya kulalui tanpa menghiraukan Charmaine. Ia terus-menerus mengejarku, tapi aku berjanji takkan pernah mendekatinya lagi setelah segala perkataannya yang menusuk hatiku waktu itu. Kali ini Charmaine benar-benar tak memiliki seorang teman pun. Sebenarnya aku merasa kasihan padanya, tapi tentunya aku tak terima direndahkan seperti itu. Mungkinkah hal ini pernah menimpa teman-temanku sehingga mereka menjauhi Charmaine? Mungkin saja. Aku benci sekali padanya. Aku sangat mengagumi dan bangga padanya, tapi apa yang dia lakukan terhadapku? Dia menghinaku seakan-akan semua orang yang tidak selevel dengannya tidak ada artinya di dunia ini!

Dengan perasaan kesal aku pergi meninggalkan kelas menuju perpustakaan pada jam istirahat. Mungkin tumpukan buku-buku itu dapat menenangkanku. Aku teringat kembali akan masa-masa saat aku masih bersama Charmaine. Sebelum aku mengenalnya, aku adalah seorang gadis yang tidak mengerti apa-apa. Perpustakaan adalah salah satu tempat yang paling kubenci. Tapi setelah aku mengenalnya, hari-hariku dipenuhi buku-buku yang tak pernah kusentuh sebelumnya. Terus terang aku merindukannya…

“ Gracia,” kudengar seseorang memanggilku dari arah belakang. Kupalingkan mukaku.

Charmaine. Oh, ya.. tentu saja seorang pewaris perusahaan besar perlu banyak belajar dengan menghabiskan waktunya di perpustakaan. Bodohnya aku, berusaha menghindarinya ke perpustakaan. Aku segera pergi menghindarinya.

“Tunggu!” teriaknya, “Tunggu dulu, aku mau bicara!” Beberapa guru yang bertugas di dalam perpustakaan berdehem akibat teriakannya itu. Tapi Charmaine, suaramu terdengar berbeda sehingga kuyakin para guru itu tidak akan menyangka bahwa kau-lah yang berteriak, bukan aku. Saat itu suaramu terdengar parau, tidak seperti biasanya. Aku mengenalmu, suaramu sangat halus dan selalu berbicara dengan kalimat yang terjalin rapi. Suatu bukti yang menguatkan bahwa kamu memang bukan orang sembarangan.

“Mau apa lagi? Kamu mau bilang sebaiknya aku pindah dari sekolah ini supaya tidak mengganggumu? Kamu ingin aku tidak menginjakkan kaki perpustakaan ini? Sayang sekali Nona Dominic, aku akan tetap bersekolah di sini. Sudah cukup kan kamu menghinaku?!” dengan tegas aku berkata tanpa menghiraukan seisi perpustakaan yang melihat ke arah kami.

“Cukup Gracia, cukup…” ia berbisik dengan putus asa, “ Aku tidak pernah menghinamu, sudah kubilang kamu hanya salah sangka… Semua dugaanmu tentangku itu salah, Gracia… Aku bahkan tidak pernah tahu siapa pejabat atau pengusaha yang kau maksud dan kapan mereka datang kemari! Aku tidak tahu, Gracia… tidak tahu…” Charmaine berkata-kata sambil menarikku menjauh dari perpustakaan itu. Aku mencoba berontak, tapi ternyata tenaganya cukup kuat untuk menarikku.

“Apa maumu, Char…” tindakannya selanjutnya sangat mengejutkanku. Ia menangis. Ya, Charmaine yang selama ini terlihat sangat kuat dan tegas di mataku menangis tersedu-sedu di depanku. Saat itu aku sungguh tidak tahu apa yang membuatnya begitu lemah dan mengubah semua kepribadiannya. Seperti bisa membaca pikiranku, ia berkata, “Karena kamu, Gracia!”

“Eh.. apa? Aku?” tanyaku, terkejut.

“Ya, tindakanmu akhir-akhir ini membuatku sangat menderita, kau tahu?” ia melanjutkan sambil terisak-isak, “Kamulah satu-satunya orang yang mau menjadi temanku di sekolah ini, tak ada yang mau berteman denganku… Tapi kamu malah pergi menjauhiku hanya karena kesalahpahaman itu, bagaimana aku tidak merasa sakit, Gracia…? Mengertilah.. aku tak pernah meninggikan derajatku.. Bahkan mungkin kamu justru memiliki sesuatu yang ‘lebih’ dibanding diriku… Kalau aku bisa mengajakmu datang ke rumahku, tentu kuizinkan, Gracia… Tapi keadaanku yang tidak memungkinkan…”

No comments:

Post a Comment