“Ah.. He..hebat sekali!!” seruku, “Bagaimana mungkin?! Kota ini benar-benar unik, Charmaine! Tapi bagaimana aku bisa pergi ke toko permen itu? Terlalu tinggi buatku. Atau kamu mau membelikanku sayap?”
Charmaine tergelak. “Apa kamu pikir ada yang menjual sayap di sini? Sayap ini sudah ada sejak kami dilahirkan. Kamu mau permen? Akan kubelikan satu permen spesial untukmu! Tunggu sebentar.” Katanya sambil terbang menuju toko permen yang bentuknya unik itu.
Tak lama kemudian dia kembali sambil membawa sekantong permen berlabelkan ‘floaty gum’. “Apa itu?” tanyaku, heran. Charmaine melemparkan kantong permen itu ke tanganku. Aku mengambil satu dan mencoba memakannya. Rupanya permen karet, apa yang aneh?
“Bagaimana? Enak, kan? Itu permen favoritku sewaktu kecil. Kamu tahu? Permen itu dapat membantu anak-anak kecil yang baru belajar terbang untuk melayang di angkasa tanpa menggunakan sayap! Kamu tertarik untuk mencoba terbang?” jelasnya.
“Apa? Aku bisa terbang?? Tapi.. aku kan manusia! Lagipula aku tak punya sayap sama sekali, Charmaine… Dan lagi aku takut ketinggian!” seruku, takjub.
“Kamu? Takut ketinggian? Mana mungkin… buktinya kamu berada di atas awan ini! Kamu tahu kan berapa ketinggian awan?” kata Charmaine, tidak percaya.
“Apa kamu tidak mendengar jeritan-jeritanku sewaktu kamu membawaku terbang? Tidak, Charmaine, aku tidak berani! Bahkan kalau perlu aku tidak ingin kembali ke bumi dengan cara terbang seperti tadi!” aku meyakinkannya. Tapi terus terang aku ingin juga mencoba terbang dengan kemampuanku sendiri.
“Aku melihatnya,” Charmaine tiba-tiba berkata padaku.
“Melihat apa? Ketakutanku?”
“Bukan,”
“Lalu apa?”
“Aku bisa melihat kalau kamu sebenarnya ingin sekali terbang. Iya, kan? Jangan menggeleng, Gracia! Sudahlah… aku bukan manusia biasa, kami para floater memiliki kemampuan yang berbeda dengan kalian.”
“Hhh… baiklah, aku mengaku!” seruku, menyerah. Kupikir tak ada gunanya menyangkal kata-katanya yang selalu terbukti benar itu. “Tapi aku masih tidak berani berada di tempat tinggi.. kalau aku berada di atas sana rasanya bumi menarikku ke bawah.. aku takut terjatuh…”
Charmaine tertawa, “Gracia… aku sudah pernah mengatakan padamu tentang dunia awan ini, kan? Bahwa pada malam hari suhunya dingin sekali? Bahwa kalau kau terjatuh kau takkan merasakan sakit separah di bumi? Percayalah Gracia, aku kan tidak pernah membohongimu.” katanya meyakinkanku.
Dia terus menerus mendesakku. Sebenarnya aku takut sekali berada di tempat tinggi. Inilah phobiaku, apa aku salah? Tapi,walau bagaimanapun juga aku memang harus percaya pada Charmaine. Aku pun mengangguk kecil padanya dan dia pun tersenyum padaku. Tapi … “Apa aku bisa terbang?” tanyaku, “Bukannya ini hanya untuk kalian para floaters? Aku kan manusia…”
“Ah, kau benar! Maafkan aku, Gracia. Aku benar-benar lupa, maaf… kapan-kapan aku akan membuatkan permen terbang yang khusus untuk manusia.” katanya untuk menghiburku.
“Tidak usah, aku justru senang karena tidak harus berada di tempat tinggi.” aku tersenyum padanya, “Tapi permen ini enak, aku boleh memakan semuanya, kan?”
“Tentu saja, itu kan memang kubelikan khusus untukmu!” Charmaine tertawa geli mendengar pertanyaan yang kuajukan.
Akhirnya kami hanya menghabiskan waktu dengan berjalan-jalan mengelilingi daerah sekitar. Sebetulnya aku merasa malu, karena selain kami tidak ada orang yang berjalan kaki, semua orang terbang dengan sayap mereka yang indah itu. Tapi sebagian dari mereka ada juga yang terbang tanpa sayap. Kulihat Charmaine begitu kelelahan, aku jadi tidak enak. Pantas saja kalau dia begitu lelah, dia sudah mengangkatku kemari, ke tempat yang jaraknya jauh sekali dari daratan. Lagipula mungkin ia tidak terbiasa berjalan kaki.
“Maafkan aku, Charmaine.” kataku tiba-tiba dan cukup membuatnya terkejut.
“Mengapa kamu minta maaf?” tanyanya keheranan, “ Kamu tidak salah apa-apa kan? Justru aku yang minta maaf karena tadi membuatmu pingsan.”
“Aku minta maaf karena kamu pasti lelah sekali waktu membawaku ke sini, lagipula kamu kan terbiasa terbang. Jadi kupikir sebaiknya kamu terbang saja, jangan pedulikan aku, toh aku masih bersamamu.” aku menjelaskan padanya.
“Hei, jangan begitu! Aku tidak apa-apa kok! Lihat, aku masih segar bugar, kan? Jangan khawatir, Gracia!”
“Aku tidak main-main, Charmaine… Kalau kamu tidak terbang, aku akan meloncat ke bumi sekarang juga!” ancamku.
Charmaine terheran-heran mendengar ancamanku. Aku menatapnya tajam untuk membuktikan keseriusanku. Dia terus memandangku dan… “Baiklah, aku kalah!” katanya sambil menghela nafas. Segera saja ia mengepakkan sayapnya yang berwarna putih bersih itu. Persis seperti seorang peri.
Ia melayang tidak lebih tinggi dari kepalaku, aku sudah mengajukan protesku tapi ia menolak. Ia balas mengancam, kalau aku terus memaksa ia yang akan melemparkanku ke bumi. Kupikir kami telah membuat ancaman-ancaman konyol, jadi kubiarkan saja ia terbang hanya setinggi kepalaku. Kami mengelilingi kota bersama-sama, Charmaine terlihat seperti pengawalku karena ia mengikutiku ke manapun aku ingin pergi. Dia bilang dunia ini masih asing bagiku, jadi aku memerlukan pengawal. Aku tak menolak selama itu tidak menyusahkannya. Kumakan sebungkus floaty gum yang dibelikan Charmaine itu. Aku suka sekali, rasamya manis dan lembut, belum pernah ada permen seenak ini di bumi.

No comments:
Post a Comment