Lama sekali menunggu hingga Charmaine mengizinkan aku datang ke rumahnya. Hingga waktu yang sangat kutunggu itu tiba, aku terus merasa tidak sabar. Tapi akhirnya, di suatu sore yang hangat sepulang sekolah…
“Ikutlah denganku,” katanya tiba-tiba.
“Apa?” tanyaku, “Tapi… kamu mau ke mana? Hari ini aku harus pergi ke tempat les… Mama akan menghukumku kalau aku tidak mengikuti les hari ini..”
“Aku tahu, aku tahu…” katanya sambil tersenyum misterius, “Tapi kesempatan ini hanya sekali, Gracia. Kamu pasti tahu ke mana aku akan mengajakmu. Aku akan mengajakmu ke suatu tempat yang sudah lama kau nantikan. Atau.. kamu lebih tertarik pergi ke tempat lesmu?”
“Tapi apa maksudmu? Tempat apa yang kau tuju?” dengan penuh tanda tanya aku menanyakan hal itu padanya.
“Wah.. wah… kamu sudah lupa, ya? Bukankah kamu yang memaksa aku waktu itu? Kalau begitu kamu memang tidak berminat, ya? Baiklah, selamat menikmati lesmu, ya!” jawabnya penuh rahasia. Dia tetap tak mengatakannya padaku, katanya akulah yang harus menebak tujuannya. Aku terus bertanya-tanya hingga tak terasa waktu lesku telah terlewat selama setengah jam. Mau bagaimana lagi?
“Baiklah, Charmaine, aku ikut denganmu. Aku sudah terlambat untuk pergi ke tempat les. Sepertinya rasa penasaranku lebih besar dari ketakutanku pada mama.” aku memutuskan, “Tapi sebenarnya kita mau pergi ke mana?”
“Ikuti aku!” katanya. Tiba-tiba Charmaine berlari sekuat tenaga ke arah utara. Aku berlari mengejarnya dan berteriak-teriak, “Charmaine! Tunggu dulu!!” tapi dia sama sekali tidak menoleh padaku. Rasanya seluruh tenagaku terkuras habis saat itu. Dia terus berlari dan aku mengejarnya hingga tak kusadari kami telah sampai di sebuah hutan kota. Hutan itu sangat sepi hingga aku seperti mendengar denyut nadiku sendiri.
“Charmaine..” kataku sambil terengah-engah, “di mana ini? Aku tak pernah tahu tempat ini, apalagi ingin pergi ke sini…”
“Ini baru langkah awal, Gracia, tenang sedikit! Sekarang kamu pegang tanganku dan.. sebaiknya simpan saja tas kita di gubuk itu. Apa? Tidak.. tidak akan hilang, gubuk itu milikku. Ayolah, aku keberatan kalau kau membawa tasmu.”
Dengan berat hati aku menuruti kata-katanya, kutinggalkan tasku di gubuk reyot itu. Tapi untuk apa dia membangun gubuk di tempat seperti ini? Tiba-tiba tangan Charmaine menarikku dengan keras.
“Cepat!” katanya, “Untuk mencapai rumahku harus begini caranya!” aku terkejut. Rupanya dia mengajakku ke rumahnya. Aku senang sekaligus heran, di mana rumahnya? Mengapa harus menelusuri hutan yang sunyi, lebat, dan tersembunyi seperti ini? Dia terus menarikku sambil berlari tanpa memberi waktu sedikitpun bagiku untuk bertanya.
Kami terus berlari kencang sekali, sampai-sampai aku tak merasa kakiku menginjak tanah. Charmaine dengan mudahnya menyeruak semak-semak dan pepohonan yang dilaluinya, dia membuka jalan untukku. Kami terus berlari hingga kulihat cahaya di kejauhan, kupikir kami sudah sampai. Tapi Charmaine tak mengurangi kecepatannya, ia justru mempercepat langkahnya, Aku tidak dapat melihat apa-apa di ujung sana. Charmaine menggenggamku dengan erat, tiba-tiba… ini sungguhan!! Charmaine tak menghentikan langkahnya ketika kulihat tebing di ujung jalan itu! Aku mencoba melepaskan diri, tapi gagal. Kami pun jatuh ke bawah.
“CHARMAINE…!!!!!” jeritku, “AP... APA YANG KAU LAKUKAAAN…?!!!” aku terus menjerit. Di bawah terlihat bebatuan tajam dengan aliran sungai deras menanti kami. Aku ketakutan. Kupejamkan mataku kuat-kuat, kurasakan tangan Charmaine menggenggam erat tanganku. Aku berteriak keras sementara tak kudengar suara Charmaine sedikitpun. Aku terus berdoa… cukup lama aku berdoa… dan berdoa lagi... tunggu, ini terlalu lama. Aku.. aku masih hidup! Apa yang terjadi…? Kubuka mataku dan…
Kami terbang!!
Tunggu, lebih tepat kalau kukatakan bahwa Charmaine yang terbang membawaku. Tapi tetap saja aneh. Sungguh mengherankan! Apa aku sedang bermimpi? Kami hampir saja menabrak burung merpati yang sedang terbang! Kualihkan pandanganku kembali pada Charmaine, dia… dia bersayap!!
“Charmaine! Apa yang terjadi?! Ada apa denganmu, HEI!” aku terkejut ketika ia terbang lebih tinggi lagi. Terus terang aku takut ketinggian. “Charmaine! Katakan sesuatu! Katakan ini mimpi!” aku menjerit ketakutan ketika Charmaine menukik tajam. Kukira kami akan jatuh.
“Jangan banyak bergerak, Gracia! Kamu cukup berat…” jawab Charmaine, wajahnya basah penuh keringat. Aku tahu, tentu saja berat baginya mengangkatku terbang. Bisa kubayangkan betapa lelahnya ia. Aku pun tutup mulut dan tak banyak bergerak selain menghindari burung-burung yang hampir menabrakku. Charmaine menarikku terbang menuju awan. Tinggi sekali.
Kami menembus awan yang besar itu. Aku berpegangan erat pada Charmaine saat kulit-kulit awan itu menggesekku seakan ingin melepaskan genggaman tanganku. Aku berpegangan dengan kedua tanganku, Charmaine mengatakan sesuatu yang tidak jelas karena tertutup bunyi berdengung dari awan-awan itu. Aku menjerit kesakitan ketika tubuhku menabrak awan putih itu. Tak pernah kusangka sebelumnya, awan yang kukira selembut kapas itu ternyata begini menyakitkanku. Telingaku pun berdenging serasa mau pecah. Kami terus maju menembus awan itu, aku tak tahu ke mana Charmaine membawaku. Aku terus bergesekan dengan awan, dan berkali-kali pula Charmaine meneriakkan sesuatu padaku. Tapi rasanya kekuatanku sudah terkuras habis, ditambah dengan rasa sakit dan dengungan di telingaku… Terakhir kali aku hanya ingat lapisan awan yang berwarna putih seperti kabut tebal itu menutupi mataku, setelah itu aku tak tahu apa yang terjadi……

No comments:
Post a Comment