Friday, February 6, 2009

APERTURA (5)

“Gracia? Gracia?” samar-samar kudengar seseorang memanggil namaku. Suara itu.. Kurasakan tepukan ringan di pipiku. Perlahan kubuka kedua mataku.. tempat ini sangat asing bagiku dan…


“Charmaine?” kataku, pelan. Aku bisa melihatnya, aku bisa melihat wajahnya yang unik itu tepat di depan mukaku.


“Ah! Kamu sudah sadar!” seru Charmaine riang, “Maafkan aku, Gracia… aku benar-benar lupa akan gesekan awan itu.. Selama ini aku tak pernah merasakan apa-apa saat menembusnya, tapi yah.. kamu kan manusia…”


Aku segera terduduk walau kepalaku terasa pusing sekali. Kutekan sisi kiri keningku dengan dua jari. “Apa yang kau katakan tadi? Aku manusia? Tentu saja! Memangnya kamu bukan manusia? Oh, ya tentu, kamu bukan manusia, kamu bersayap dan… hei! Mana sayapmu?” aku bertanya-tanya dengan penuh keheranan. Charmaine memang sangat ahli dalam membuatku terkejut dan terbingung-bingung.


“Kamu lucu, Gracia,” jawabnya sambil tertawa kecil, “Kamu lucu sekali. Tentu saja aku manusia! Tapi… seperti yang telah kukatakan : satu di antara ribuan temanmu adalah…”


“Manusia setengah peri?” potongku.


“Tepat sekali, Gracia.” Ia membenarkan, “Dan kamu sedang berada di dalam rumahku yang kau incar itu! Lihat, biasa saja, kan? Aku sama sekali bukan keluarga pejabat!” ia tergelak, “Dan… mau tak mau kamu harus percaya bahwa kamu sedang berada di atas awan! Kamu menyerah, kan? Aku punya bukti.”


“Tunggu dulu, Charmaine… apa maksudmu dengan manusia setengah peri? Kamu manusia penuh, kan? Lagipula.. awan adalah kumpulan air, maksudku uap air, jadi tak mungkin aku, dan kamu tentunya, sedang duduk di atas awan! Bagaimana mungkin awan yang ringan itu sanggup menopang berat rumah ini? Kamu hanya menghipnotisku, ya?” sanggahku.


“Graciaa…” kulihat wajahnya sedikit kesal, walaupun ia masih tertawa kecil, “Kamu pikir dalam awan ini hanya ada satu rumah?! Ikut aku sekarang!” lagi-lagi ia menarikku dengan tenaganya yang lumayan besar itu. Aku menurut saja.


Charmaine menarikku keluar dari kamarnya. Tampak seorang wanita paruh baya di depan pintu kamarnya. Dia menanyakan keadaanku dengan cemas, kukatakan bahwa aku baik-baik saja, tak ada yang perlu dikhawatirkan. Kemudian kami, maksudku aku dan Charmaine, berjalan keluar rumah mungil itu. Alangkah terkejutnya diriku saat kulihat sebuah kota! Ya, kota! Aku memandangnya dengan takjub. Bagaimana mungkin di dalam awan terdapat kota seindah ini?

Kota, atau lebih tepat kusebut negeri awan itu sangat indah, siapapun yang melihat pasti akan terpesona. Di tengah-tengah kota kulihat sebuah menara tinggi dan besar yang berbentuk unik dan berkilauan, di sekeliling menara itu terdapat taman yang besar berbentuk lingkaran mengellingi menara itu. Rumput-rumputnya yang biru (ya, biru!) tertata apik, di pinggir-pinggirnya terdapat beraneka macam bunga yang berwarna-warni. Charmaine mengatakan padaku bahwa ‘menara’ itu adalah gedung utama di kota ini. Semacam balai kota yang merupakan pusat pemerintahan.


Pemandangan selanjutnya akan membuat siapa saja terkejut. Tata kota ini sangat unik. Rumah-rumah penduduk berada di sekitar gedung utama, masing masing berjarak sekitar lima ratus meter dari gedung utama, sementara jarak antar rumah itu sendiri sekitar sepuluh meter. Selanjutnya, Charmaine menyuruhku melihat ke atas. Ternyata di atas kepala kami, maksudku di atas kota ini, terdapat bangunan-bangunan yang melayang. Charmaine menjelaskan bahwa bangunan-bangunan melayang itu adalah toko-toko dan supermarket. Sementara setiap 5 rumah memiliki satu ‘helper’ (di bumi mungkin disebut rumah sakit tapi helper mencakup bantuan yang cukup luas, tidak hanya dalam bidang medis); 5 rumah beserta 1 helper itu membentuk sebuah segitiga dan helper ituberada di ujungnya.


“Bagaimana?” tanya Charmaine, mengagetkanku.

No comments:

Post a Comment