Ia berbicara panjang lebar sementara aku sama sekali tak bisa berkata-kata. Dia benar-benar mengejutkanku. Saat ini aku hanya dapat meyakini pernyataannya bahwa dia bukan bagian dari keluarga pejabat itu, walaupun aku merasa dia memang mirip keluarga bangsawan. Tapi tentu saja aku tak mau kehilangan sahabatku yang unik ini. Lagipula ia sudah merubah cara hidupku yang buruk. Begitu banyak kebaikan yang telah ia lakukan padaku. “Aku mengerti.” Saat itu aku benar-benar tidak sadar dengan apa yang telah kuucapkan! Sebetulnya aku ingin dia benar-benar menyesal dulu, tapi.. apa yang membuatku mengatakan hal itu?
“GRACIA!” pekik Charmaine, “Aku.. aku yakin kamu pasti mau mengerti! Aku berjanji suatu saat, entah kapan, aku akan mengajakmu ke rumahku! Aku tidak peduli walau harus melanggar segala peraturan yang ada!”
“Peraturan? Peraturan apa? Kau semakin misterius, Charmaine! Jadi benar kan orang tuamu tak mengizinkan seorangpun datang ke rumahmu?”
“Yah… mungkin bisa dikatakan begitu?”
Aku sebenarnya masih ingin bertanya banyak hal padanya, tapi kulihat dia sepertinya ingin segera mengakhiri percakapan yang menyangkut dirinya itu. Charmaine, ia memang penuh misteri. Ketika hal itu kuungkapkan padanya, dia malah menjawab dengan gayanya yang biasa, “Gracia, kau pikir hanya aku yang tampak penuh misteri? Kalau kau berpikir begitu tentu salah, Gracia. Setiap orang di dunia ini merupakan sebuah misteri. Kau mengerti, kan?” dan aku hanya mengangguk walaupun sesungguhnya aku tidak begitu mengerti.
Selanjutnya, hari-hari kami berjalan seperti biasa tanpa ada hal-hal yang mengganggu kami. Charmaine, seperti biasanya, berusaha meyakinkanku tentang hal yang paling disukainya, floaters. Terus terang aku tak habis pikir mengapa ia bisa membuat pemikiran seperti itu. Semua orang tahu manusia tak pernah bisa terbang, lalu mengapa ia berpendapat begitu?
“Kalau kau jadi aku, tentu kamu akan mempercayainya,” katanya sambil tersenyum penuh rahasia.
“Tentu saja, karena aku menggunakan otakmu. Tapi sayangnya aku bukan kamu, dan rasanya terbang itu mustahil.” perkataanku membuatnya tertawa.
“Rupanya pemikiranmu berkembang, Gracia. Tapi apa kamu benar-benar yakin? Apa kamu pernah meneliti semua manusia di dunia ini, termasuk di tempat-tempat tersembunyi seperti di awan? Kalaupun kamu mengenali semua manusia di dunia, tapi kamu belum mengetahui jati diri dan keadaan mereka sepenuhnya, kan? Hei, hei jangan heran begitu, Gracia! Aku cuma memberikan pendapatku.”
Terus terang aku terpengaruh perkataannya. Memang benar aku tidak pernah meneliti semua manusia di dunia ini. Tentu saja! Bagaimana mungkin?! Tiba-tiba aku teringat sesuatu dan membalas perkataannya tadi, “Kamu juga belum pernah meneliti manusia kan? Lalu bagaimana bisa kamu begitu yakin akan adanya manusia yang bisa terbang dan tinggal di awan?”
“Kamu cerdik juga, Gracia! Aku hampir kalah!” katanya sambil tertawa, “Kamu tidak pernah menyangka, kan kalau…” ucapannya terhenti.
“Kenapa? Aku tak pernah menyangka apa?” tanyaku, heran.
“Kau tahu, kan? Suatu saat aku akan mengajakmu ke rumahku, di sanalah kamu bisa mendapatkan jawabannya sekaligus mempercayai kata-kataku. Bagaimana?”
“Baiklah,” jawabku sedikit ragu-ragu.
“Suaramu penuh keraguan. Percayalah padaku, kamu tahu kan aku tak pernah berbohong padamu? Walaupun aku memang menyembunyikan identitasku..” Charmaine kelihatan tidak enak padaku sehingga aku akhirnya mengangguk juga.

No comments:
Post a Comment